23 July 2011

Mengenang Peristiwa Mandor

KOMPAS

Minggu, 15 Mar 1998

JUANG MANDOR, KUBURAN MASSAL KORBAN JEPANG

Makam Juang Mandor
TAK banyak yang mengetahui, di Desa Mandor -sekitar 88 km dari kota Pontianak- terdapat kuburan massal ribuan korban keganasan penjajah Jepang tahun 1942-1945. Kuburan massal yang dijadikan monumen Makam Juang Mandor itu, terletak di tepi jalan raya yang menghubungkan Pontianak dengan Kabupaten Sintang dan Kabupaten Sanggau.

Meski hanya kota kecamatan, Mandor memiliki arti penting dalam sejarah Kalimantan Barat. Di sinilah Jepang membantai 21.037 rakyat Kalbar, termasuk 48 pemuka masyarakat Kalbar. Setiap 28 Juni, Pemda Kalbar mengadakan upacara di Makam Juang Mandor, mengenang peristiwa getir ini.

Kekejaman penjajah Jepang waktu itu dapat disaksikan melalui relief-relief pada monumen yang diresmikan pada 28 Juni 1977 silam oleh Gubernur Kalbar (waktu itu) Kadarusno. Relief-relief yang dibuat oleh mahasiswa ASRI Yogyakarta itu memberikan gambaran sekilas kekejaman serdadu Jepang. Di Makam Juang Mandor terdapat 10 kuburan massal. Selain itu, terdapat pula lapangan terbuka yang dulunya dijadikan lokasi pembunuhan massal.Makam ini berada di kawasan hutan lindung yang suasananya cukup menyeramkan.

Makam nomor 10 yang letaknya paling ujung, dihiasi gapura khusus. Konon di sinilah dikuburkan Sultan Pontianak bersama 60 anggota keluarganya. Juga 11 panembahan, raja-raja ecil, serta tokoh masyarakat di Kalimantan Barat. Antara lain bisa disebutkan di sini, Syarif Muhammad Alkadrie (Sultan Pontianak, gugur pada usia 74 tahun), Pangeran Adipati (putra Sultan Pontianak, 31), Gusti Saunan (Panembahan Ketapang, 44), Muhammad Ibrahim (Sultan Sambas, 40), Tengku Idris (Panembahan Sukadana, 50), Gusti Mesir (Penembangan Simpang, 43), Syarif Saleh (Penembahan Kubu, 63), Gusti Abdul Hamid (Penembahan Ngabang, 42), Ade Muhammad Arief (Penembahan Sanggau, 40), Gusti Muhammad Kelip (Penembahan Sekadau, 41), Muhammad Taufiek (Penembahan Mempawah, 63), Raden Abdul Bahry Daru Perdana (Penembahan Sintang), dr Roebini (mertua Wiyogo Atmodarminto, 39, yang saat itu menjabat sebagai direktur rumah sakit Pontianak) dan istrinya Amelia, Tji Bun Kie (wartawan) dan banyak nama lainnya.

Pembantaian ribuan warga Kalbar terjadi karena pemerintah pendudukan Jepang curiga pada gerak-gerik tokoh masyarakat Kalbar. Mereka dinilai dapat mengganggu legitimasi pemerintah pendudukan Jepang. Dalam relief-relief digambarkan prosesi penangkapan dan pembunuhan korban. Setelah tentara Dai Nippon mengetahui rahasia yang disampaikan utusan dari Banjarmasin ke Pontianak, dimulailah penangkapan besar-besaran terhadap tokoh-tokoh masyarakat yang dicurigai. Mereka dimasukkan ke dalam truk, dan dibawa ke lokasi pembantaian (yang berada di kawasan Mandor).
Relief Makam Juang Mandor
Relief itu juga menggambarkan bagaimana tentara Dai Nippon menghabisi korban. Saat-saat pembantaian dilukiskan cukup detail. Para korban antre berjajar menghadap lubang, lalu secara beruntun dipancung dengan pedang samurai. Pembantaian ini dikisahkan pula oleh Tsuno Iseki, orang Jepang yang pernah tinggal di Kalbar pada 1928-1946 dan fasih berbahasa Indonesia, dalam buku berjudul Peristiwa Pembantaian Penduduk Borneo BaratPembuktian Peristiwa Pontianak yang terbit Juli 1987 di Jepang. Taizo Watanabe ketika menjabat Duta Besar Jepang untuk Indonesia pernah berkunjung ke Makam Juang Mandor ini. Sejarah gelap pendudukan Jepang di Kalbar memang tak mungkin terlupakan.
***

RIBUAN mayat korban keganasan Jepang ini dibiarkan berserakan di lokasi. Sampai Jepang bertekuk lutut, pasukan Australia mewakili Sekutu masuk ke Mandor yang selama Jepang Berkuasa, merupakan daerah militer terlarang. Tentara Australia membutuhkan waktu tiga bulan untuk mengumpulkan tulang-belulang yang berserakan di sana, dan kemudian bersama penduduk setempat, menguburnya dalam 10 lubang kuburan massal.

Pasukan Sekutu membangun kuburan massal Mandor selama tiga tahun (1946-1949). Di setiap kuburan massal, dibuat bangunan kayu tak berdinding. Setelah Sekutu meninggalkan Indonesia, kuburan massal di Mandor selama 18 tahun tak terawat. Mereka yang hendak berziarah, harus bersusah payah melewati semak-belukar.

Tahun 1973, atas prakarsa Gubernur Kalbar (waktu itu) Kadarusno, makam juang Mandor mulai diperhatikan lagi. Kadarusno memprakarsai ziarah massal ke Mandor pada 28 Juni 1973. Semak belukar pun dibersihkan. Tahun 1976, Pemda Kalbar memugar kawasan Mandor, dengan memugar bangunan yang menaungi kuburan massal dan melebarkan jalan menuju lokasi 10 makam agar bisa dilalui kendaraan. Tahun 1977 Monumen Sejarah Makam Juang Mandor diresmikan. Monumen berbentuk dinding beton berlapis marmer, dengan relief di kanan-kirinya itu dikerjakan para mahasiswa ASRI Yogyakarta.

Menurut cerita Abdus Somad (62), penjaga makam, sebelumnya ia diminta Kadarusno untuk menggali tanah di Mandor. “Ternyata setelah digali, kami menemukan tulang-belulang manusia bertumpuk di dalam tanah, termasuk yang berserakan di sekitar hutan,” kata Somad yang hingga sekarang bekerja sebagai perawat makam. Uniknya, kata pria kelahiran Ketapang (Kalbar) ini, ketika melakukan penggalian di tengah hutan belantara dengan pepohonan yang rimbun (yang kini dikenal dengan Makam No 10), ia menemukan dua jenazah manusia yang masih utuh.

Yang satu, perempuan dalam keadaan tangan terikat ke depan, rambut masih utuh, mata tertutup kain, mengenakan kebaya dan selendang. Jenazah pria, mengenakan pakaian putih dan sepatu. Kaos kaki masih tersimpan di dalam saku kiri celananya. “Namun begitu kena matahari, jenazah itu langsung tinggal kerangka,” ungkapnya. Kedua kerangka itu dipindahkan dan dimakamkan di dekat Monumen Makam Juang Mandor.
***

SAYANGNYA, Makam Juang Mandor belum menjadi obyek wisata sejarah yang dikunjungi banyak wisatawan yang datang ke Kalbar. Menurut penjaga makam Juang Mandor, Abdus Somad, pada hari biasa, hanya ada satu-dua orang yang datang. Pada hari Minggu dan hari-hari tertentu, makam ini dikunjungi masyarakat, termasuk kerabat dan sanak-saudara korban keganasan Jepang yang berziarah.

Di sana, dibangun pendopo yang menggantungkan sejumlah foto korban keganasan Jepang. Sayang, tidak dilengkapi dengan sejarah dan peranan tokoh masyarakat bersangkutan sehingga pengunjung masih menyimpan sejumlah pertanyaan yang tak terjawab. Tampaknya pemda setempat sudah berupaya menjadikan Makam Juang Mandor sebagai obyek wisata sejarah. Hanya mungkin kurang dilengkapi dengan daya tarik lain. Misalnya kios yang menjual buku sejarah kekejaman Jepang di Mandor, suvenir-suvenir khas daerah setempat. Juga mungkin karena tak ada prasarana pendukung seperti rumah makan, atau pemandu yang dapat menjelaskan sejarah Mandor kepada turis-turis asing dan lokal. Entah kurang promosi, entah kurang gencarnya biro perjalanan Kalbar menjual Makam Juang Mandor, sehingga kondisinya kini memprihatinkan dan terkesan kurang perawatan. (adhi ksp) 


Related Posts

Comments
1 Comments

1 comment:

Anonymous said...

Indra Ganie :

Pertama kali saya mendapat info tentang pembunuhan massal di Kalbar, ketika saya masih SD. Saya baca buku sejarah dan saya temukan info singkat tentang peristiwa tersebut. Seiring berjalan waktu makin lama saya makin tahu, mungkin karena saya suka sejarah. Saya terkejut bahwa jumlah korbannya begitu banyak. Saya menilai bahwa peristiwa ini harus dikenang atau diperingati secara nasional, mengingat jumlah korban yang besar, mencakup orang berbagai latar belakang identitas (profesi, suku, bangsa, agama). Kita ingat bahwa pertempuran di Surabaya dikenang secara nasional sebagai "Hari Pahlawan" karena jumlah korban besar dan mencakup orang dengan latar belakang yang beragam pula. Saya mendapat kesan bahwa Jepang adalah (mantan) penjajahan yang terlupakan. Agaknya Jepang beruntung bahwa perioda penjajahannya terbilang singkat dan terjepit pula. Sejak awal penjajahan hadir di Nusantara pada 1511 – ketika Portugis mencaplok Malaka – hingga Kapitulasi Kalijati 1942 yang mengakhiri penjajahan Belanda, perioda ini adalah full perioda penjajahan Barat. Setelah Perang Dunia-2 berakhir pada 1945, Indonesia harus kembali berhadapan dengan imperialisme Barat – dengan istilah “Sekutu” – dan berakhir pada 1962, saat Irian Barat harus diserahkan Belanda. Dengan demikian ingatan bersama bangsa ini yang paling dalam adalah penjajahan Barat. Untuk waktu ke depan, tidak hanya perihal penjajahan Barat (termasuk segala kejahatannya) yang disimak lebih jauh, namun juga perihal pendudukan Jepang (1942-5). Walau “hanya” sekitar 3,5 tahun, pendudukan Jepang berdampak luar biasa. Dari segi jumlah warga yang tewas terdapat angka yang begitu fantastis – sekitar 4 juta, akibat kekejaman dan kelalaian pemerintah pendudukan. Saya menilai tulisan, penelitian, monumen atau apapun yang dapat mengingat perioda pendudukan Jepang masih relatif sedikit dibanding hal yang sama dengan penjajahan Barat. Juga harus diwaspadai bahwa Jepang belum berhenti bermimpi menjadi pemimpin Asia-Pasifik, dan mimpi tersebut mendapat restu diam-diam dari Amerika Serikat – mantan musuhnya pada Perang Dunia-2. AS butuh Jepang untuk membendung pengaruh Cina dan Korea Utara. Di dalam negeri Jepang sempat muncul suara-suara yang ingin mengubah konsep militer Jepang yang defensif menjadi ofensif, terlebih Jepang terlibat sengketa wilayah dengan Cina. Terkait dengan Indonesia, harus diwaspadai penjajahan Jepang jilid-2 antara lain melalui berbagai bantuan yang sebagian besar adalah berbentuk pinjaman – artinya HUTANG! Ini jelas membebani APBN kita yang seharusnya berguna untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Oh ya, ada lagi yang perlu diingat bahwa apa yang disebut “Indonesia Japan Economic Partnership Agreement” / IJEPA yang diteken pada 2007 dinilai sejumlah anak bangsa sebagai bentuk penjajahan Jepang jilid-2, antara lain IJEPA merupakan sebuah bentuk strategi keamanan energi Jepang, terutama untuk gas alam dan batubara. Pengiriman gas ke Jepang bukannya tanpa risiko, karena kedaulatan dan ketahanan energi (energy security) Indonesia akan terancam, karena gas bukanlah energi terbarukan. Krisis energi yang saat ini tengah mengemuka dalam politik global hendaknya menjadi pelajaran bagi Indonesia untuk melakukan pengamanan pasokan energi di dalam negeri, untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga, pertanian dan industri dalam negeri secara berkelanjutan. Dengan demikian, JEPANG BELUM BERHENTI MELANJUTKAN PENJAJAHAN DI INDONESIA!

Wassalam,


Indra Ganie
Bintaro Jaya, Kabupaten Tangerang - Banten

Passan Pala' Kesah

Awalnya blog ini dibuat hanya iseng untuk mendokumentasikan dan mengumpulkkan khazanah tanah kelahiran yang hampir terlupakan generasi muda. Berawal dari postingan permainan rakyat dan kamus mini bahasa Melayu Sambas, admin terus memperbaiki SEO dan postingan dan berupaya memenuhi apa yang diinginkan pembaca blog ini. Setelah di analisa, ternyata kebanyakan pengunjung blog ini mencari tentang sejarah kelam Sambas 1999.

Inginya blog ini difokuskan untuk sejarah, budaya dan segala sesuatu yang terkait dengan tanah kelahiran, namun pada perjalanannya admin banyak menemukan artikel menarik dan sengaja direpost disini untuk arsip pribadi. Sungguh sangat tidak disangka ternyata banyak juga pembaca punya ketertarikan yang sama dengan fenomena akhir zaman yang semakin nyata. Untuk saat ini admin akan fokus pada artikel tentang Dajjal dan Imam Mahdi yang dipastikan sebentar lagi akan tiba. Apabila pembaca menemukan artikel yang menarik haraplah berikan hujatan, celaan atau komentarnya...^_^

Jika ada yang tertarik untuk menjadi penulis di blog ini, atau tukar link sesama blogger, jangan sungkan-sungkan untuk menghubungi admin

Hariyono Al Kifri