15 April 2011

Syekh Abu Hasan al-Syadzily "Imam Wali Quthub Sepanjang Masa"

Nama lengkap beliau adalah as-Syadzili Ali bin Abdillah bin Abdul-Jabbar, yang kalau diteruskan nasabnya akan sampai pada Hasan bin Ali bin Abi Thalib dan putranya Fatimah al-Zahra’, putri Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Berikut ini nasab Abu Hasan Asy-Syadzili: Abul Hasan, bin Abdullah Abdul Jabbar, bin Tamim, bin Hurmuz, bin Hatim, bin Qushay, bin Yusuf, bin Yusya', bin Ward, bin Baththal, bin Ahmad, bin Muhammad, bin Isa, bin Muhammad, bin Hasan, bin Ali bin Abi Thalib suami Fatimah binti Rasulullah SAW. Syekh Abu al-Hasan dilahirkan di negara Maroko tahun 593 H di desa yang bernama Ghimaroh di dekat kota Sabtah (dekat kota Thonjah sekarang).

PERJALANAN SYECH ABU HASAN AL-SYADZILI

Syaikh Abi Chasan Ali Syadzili adalah seorang wali quthub yang besar, yang menjadi kembangnya jagat serta tentramnya negeri, ilmu dan wasiatnya termasuk hizib-hizibnya seperti hizib nasor dan lain-lain itu selalu menjadi ketentraman hati bagi para pengikutnya dan para wali, juga menjadi bekalnya para muslimin yang telah merasakan nikmatnya menghambakan diri kepada Alloh dzat yang maha kuasa.
Maka di sini perlu saya sampaikan dengan maksud mudah-mudahan saya dan para pembaca juga para pendengar bisa menjadi orang yang bila mendengar perkara dan keterangan-keterangan baik, bisa meniru, tetapi bila mendengar perkara dan keterangan-keterangan jelek, bisa dengan cepat meninggalkannya. Amin Ya Robbal alamin.

Yang perlu saya sampaikan di sini ialah :
1. Bab kelahiran dan kematiannya Syaikh Abi Chasan Ali Syadzili
2. Bab nasab dan silsilahnya Syaikh Abi Chasan Ali Syadzili
3. Bab sifat-sifatnya Syaikh Abi Chasan Ali Syadzili
4. Bab karomah-karomahnya Syaikh Abi Chasan Ali Syadzili
5. Bab guru-gurunya Syaikh Abi Chasan Ali Syadzili
6. Bab qoul-qoulnya (perkataan-perkataannya) Syaikh Abi Chasan Ali Syadzili

Lahir dan wafatnya Syaikh Abi Chasan r.a

Imam Syadzili itu dilahirkan di kota Syadilah yaitu suatu desa di daerah gimaroh, Afrika bagian barat tahun 593 Hijriah. Dan ketika beliau berumur 6 tahun pergi ke negara tunis, dan bertepatan saat itu krisis, sehingga banyak di jalan-jalan orang-orang yang kesakitan dan kelaparan. Maka dengan kebaikan dan rasa belas kasihannya beliau berkata : ”umpama saya punya uang, pasti akan ku belikan roti untuk orang-orang yang kelaparan. Maka kemudian Alloh menguji beliau dengan memenuhi uang di kantong beliau dari alam ghoib, dan diperintahkan untuk membelikan roti dengan yang tersebut. Maka kemudian secepatnya beliau membeli roti, kemudian membagikannya pada orang-orang yang kelaparan tersebut, sehingga semuanya kenyang. Dan setelah itu beliau secepatnya pergi ke masjid, sebab saat itu bertepatan hari Jum’at. Dan ketika sampai di masjid lalu sholat sunnah, kemudian duduk i’tikaf. Dan waktu belum lama duduknya, tiba-tiba datang orang laki-laki yang berwibawa tingkah lakunya, mengucapkan salam pada beliau, dan laki-laki tersebut memberi tahu, bahwa namanya Ahmad Hidir dan mengatakan bahwa dirinya datang kesini diperintah untuk menetapkan iman Syadzili menjadi wali Agung, karena imam Syadzili mempunyai akhlak yang Agung dan mulya. 

Ketika selesai sholat Jum’at imam Syadzili mencari Nabi Hidir tapi tak menemukannya, maka kemudian imam Syadzili pergi kehadapan Syaikh Abi Sa’id Al-baji, ketika sampai dihadapannya, kemudian Syaikh Abi Syaid berkata pada Syaikh Abi Chasan tentang apa yang ada pada perjalanan Syaikh Abi Chasan, tentang membelinya roti dengan uang dari alam ghoib, dan tentang pertemuannya dengan Nabi Hidir, tentang ucapan salamnya dan tentang pemberitahuan namanya dan tentang pemberitahuan Nabi Hidir bahwa kedatangannya diperintahkan untuk menetapkan Syaikh Abi Chasan sebagai wali Agung. Setelah Syaikh Abi Chasan mendengar seperti itu beliau sangat gembira karena merasa sudah sampai apa yang dikehendaki. Maka kemudian beliau tetap tinggal berguru dihadapan Syaikh Abi Sa’id beberapa tahun, sehingga melaksanakan haji beberapa kali bersamanya.

Setelah Syaikh Abi Chasan menjadi alim dan merasa cukup berguru dengan dohirnya ilmu syari’at, kemudian pamit pindah ke negara irak. Syaikh Abi Chasan memulai datang ke rumah Syaikh Abil Fath Al-wasithi. Beliau adalah gurunya negeri barat daerah mesir dan menjadi guru torikot di saat itu. Dan ketika Syaikh Abi Chasan menjelaskan tujuan kedatangannya, Syaikh Abil Fath berkata : ”bahwa wali quthub yang dicarinya tak ada di tanah irak, tapi ada di negara bagian barat yaitu di negrinya Syaikh Abi Chasan sendiri, dan Syaikh Abil Fath juga memberi isyaroh bahwa wali quthub yang dicarinya ada di atas suatu gunung. Maka berangkatlah imam Syadzili menuju gunung yang di isyarohkan tersebut, setelah sampai di bawah gunung, lalu beliau siap-siap untuk mengagungkan wali quthub tersebut, lalu mandi di sumberan air yang ada di bawah gunung. 

Ketika Syaikh Abi Chasan mau berangkat kehadapan wali quthub, tiba-tiba sebelum Syaikh Abi Chasan mengangkat kakinya, justru wali quthub tersebut menjemput datang ke tempat Syaikh Abi Chasan mandi, dan berkata : ”sesungguhnya Rosululloh saw telah memberi kabar kepadaku bahwa Syaikh Abi Chasan akan datang padaku. Dan Rosululloh saw perintah padaku untuk mendidik Syaikh Abi Chasan. Maka ketika Syaikh Abi Chasan cukup ilmunya dari wali quthub tersebut, maka Syaikh Abi Chasan diperintah untuk kembali ke asal negerinya yaitu Syadzila. Dan dikatakan : ”sesungguhnya dirinya akan disebut-sebut dengan nama Syadzili dan akan menjadi wali quthub di negara Mesir. Kemudian Syaikh Abi Chasan kembali ke desa Syadzili.

Ketika telah berumur 19 tahun, Syaikh Abi Chasan mimpi bertemu dengan Rosululloh saw dan diperintahkan untuk hijroh (pindah) ke Mesir dan dikatakan : bahwa dirinya akan diberi 70 karomah di dalam toriqohnya dan diberi 40 murid dari golongan wali-wali siddiqin, dan ketika Syaikh Abi Chasan datang dinegara Mesir tersebut ketepatan saat wafatnya Syaikh Abi Hajjaj al aqshory sebagai pemegang wali quthub di negara Mesir yaitu malam nisfu sya’ban th. 612 H, dan di saat itu juga Syaikh Abi Chasan dijadikan pemegang wali quthub di negara Mesir sebagai ganti Syaikh Abi Hajjaj al aqshory RA.

Dan Syaikh Abi Chasan itu ketika sampai dinegara Mesir dan menetap disana yaitu tahun 612 H beliau menyebarkan dan mengajarkan ilmu hakikot sehingga banyak sekali orang-orang besar dari para ulama dan auliya yang masuk dalam jamaah beliau dan mengambil berkah dengan bay’at kepada beliau seperti shulton ulama Syaikh Izzudin bin Abdi salam dan Syaikh Islam misrol mahrusah dan golongan ushfur dan Syaikh Tanbihudin dan guru ahli hadits Syaikh Abdul ’Adzim Al mundziri dan Syaikh Ibnu Sholah dan Syaikh Ibnu hajib dan Syaikh Muhyidin Ibnu Shuroqoh dan Syaikh Alimin dan yang lainnya. Sehingga sampai 40 orang dari golongan Shidiqin.

Dan Syaikh Abi Chasan r.a itu adalah dari golongan wali yang agung dari kesabarannya dari beberapa macam cobaan. Sebagian dari cobaan beliau ialah sesungguhnya ahli negara beliau menghukumi beliau kafir zindiq, sehingga mereka mengusir beliau beserta jamaah beliau dari negara magrib. Kemudian mereka menulis surat kepada perwakilan Iskandariyah bahwa sesungguhnya akan datang kepada kalian semua golongan kafir zindiq bangsa magrobiy maka takutlah berkumpul dengan mereka, maka setelah Syaikh Abi Chasan datang didaerah Iskandariyah dan beliau menemui mereka maka mereka mencela beliau kemudian mereka melaporkan beliau kepada raja Iskandariyah. Jadi beliau tak henti-henti dalam kesakitan-kesakitan sampai-sampai ketika beliau pergi ibadah haji dengan para manusia dalam beberapa tahun terputus ibadah haji dengan para manusia dalam beberapa tahun terputus dari banyaknya pembegal-pembegal, maka beliau tetap sabar, kemudian para manusia itu memuji beliau.

Dan Syaikh Abi Chasan r.a ketika telah berusia 63 tahun beliau hendak pergi ibadah haji maka ketika sampai ditanah lapangnya ’Idzab, beliau wasiat kepada murid-muridnya supaya menghafalkan do’a hizib bacher dan berwasiat bahwa sesungguhnya Syaikh Imam Abil Abbas Al Mursiyyi r.a dengan kehendak Alloh dan ridho Alloh dijadikan pengganti beliau setelah wafatnya beliau kemudian Syaikh Abil Chasan mengambil air wudhu, kemudian sholat sunah, kemudian beliau berkata ”wahai tuhanku, wahai tuhanku kapan adanya pertemuan?” tak henti-henti sampai terbit fajar maka ketika berhenti mendekatlah putra beliau maka tiba-tiba beliau telah kembali ke rohmatullah. Dan banyak sekali para wali-wali besar yang datang mensholati jenazah beliau, dan mengambil berkah dengan mengiring jenazah beliau kemudian beliau dikuburkan ditempat itu (shohro’ idzab) dalam bulan dzulqo’dah tahun 656 H.

Syaikh Abil Chasan adalah bernama Sayid Abu Chasan Assyadiliy putranya Sayid Abdullah putranya Sayid Abdul Jabar, putranya Sayid Tamim, putranya Sayid Hurmuz putranya Sayid Khotim, putranya ..........., putranya Sayid Yusuf, putranya Sayid Yusa’, putranya Sayid Wardi, putranya Sayid Ali putranya Sayid Ahmad, putranya Sayid Muhammad, putranya Sayid ’Isa, putranya Sayid Idris Almutsanna, putranya Sayid Idris putranya Sayid Abdullah, putranya Sayidinaa Chasan Al mutsana, putranya Sayidina Chasan, putranya Sayidah Fatimah putrinya Nabi Muhammad saw.

Silsilahnya Syaikh Abil Chasan Assyadiliy dari guru dzikir Sirrilalah Syaikh Abi Abdullah Muhamad bin Charozin, beliau dari Syaikh Abi Muhamad Sholeh bin banshori Addakaaliy, beliau dari Syaikh Abi Madyan Al andalusi, beliau dari Syaikh Quthub Abi Ya’inna adar, beliau dari Syaikh Abi Muhammad Tannur, beliau dari Syaikh Abi Muhamad Abdul Jalil, beliau dari Syaikh Abil fadli Al Hindi Abdillah bin Abi Basyar, beliau dari Syaikh Abi Basyar Al Chasan Al Jauhari, beliau dari Syaikh Abi Ali Annuriy, beliau dari Syaikh Abil Chasan Assarry Assiqoty, beliau dari Syaikh Abi Mahfudz Ma’ruf bin firuzil Kurochi, beliau dari Syaikh Sulaiman dawud Atthi’i, beliau dari Syaikh Habib Al’ajamiy beliau dari Syaikh Abi Bakar bin Muhamad bin Sirin, beliau dari Sayidina Anas r.a, beliau dari Rosulullah saw.

Adapun silsilahnya Syaikh Abil Chasan Assyadiliy r.a dari guru dzikir jahri (silsilah Quthubiyah) ialah Syaikh Quthub Abdussalam, beliau mengambil toriqoh dari Al Quthbus Syarif Abdurrohman, beliau dari Quthub Taqilyuddin Al fuqoiri, beliau dari Quthub fahruddin, beliau dari Quthub Nuruddin beliau dari Quthub Tajuddin beliau dari Quthub Syamsuddin beliau dari Quthub Zinuddin, beliau dari Quthub Abi Ishak Ibrohim Al Bashori beliau dari Quthub Abil Qosim Ahmad Al Mazwani, beliau dari Quthub Sa’id, beliau dari Quthub Sa’du, beliau dari Quthub Abi Muhamad Fathusu’ud, beliau dari Quthub Al Fazwani, beliau dari Quthub Abi Muhamad Jabir, beliau dari Quthub Al Aqthob Sayidina Chasan, beliau dari Sayidina Ali r.a, beliau dari Rosulullah saw.

Menurut keterangan orang yang telah bertemu dengan Syaikh Abi Chasan Asyadzili, bahwa dia adalah seorang laki-laki yang agung, yang tinggi agak kurus, wajahnya wajah seorang pertapa, perawakannya menarik, bentuk wajahnya agak lonjong yang memancarkan sinar keimanan dan keihlasan, adapun kulitnya sawo matang (hitam kemerah-merahan), godeknya tipis, tangannya agak panjang dan jari-jarinya langsing. Menurut keterangan itu sudah menunjukkan seorang yang agung yang penuh Asror dan hikmah, yang sifat seperti ini sesuai dengan keterangan Abul Azaa’im bahwa diantara sifat imam Asyadzili itu ialah lincah dan gesit, ucapannya pelan dan jelas, masuk kehati, manis bahasanya, ringkas tutur katanya enak didengarkan dan mudah diterima, sehingga apa yang dikatakan punya pengertian yang dalam.

Syaikh Abi Chasan r.a itu sangat tawaddu’, dan sesungguhnya sebagian dari ketawadu’annya ialah : beliau tidak mau berbicara di suatu tempat perkumpulan, kecuali bila dikatakan pada beliau ”berbicaralah!” maka baru mau berbicara, dan perkataan beliau itu halus, dan bisa ditanggapi orang-orang besar dan orang-orang kecil karena kebijaksanaan beliau, dan keadilan beliau, dan karena beliau mengerti ilmu-ilmunya para ulama, dan sifat-sifatnya raja0raja dan kebijaksanaannya ahli hikmah.

Dan diceritakan : sesungguhnya ketika para auliya dan para ulama berkumpul di balai pertemuan manshuroh dekat tsugroh dimyathi : syaikh izzuddin bin Abdussalam dan syaikh makinuddin Al-asmari dan syaikh taqiyyuddin bin daqiqil’id dan yang lainnya, mereka semua telah duduk sedang membicarakan Risalah Qusyairiyah dan setiap mereka mengatakan pada beliau. Kami ingin mendengar suatu perkataan darimu tentang makna-makna pembinaan ini, maka beliau berkata ”kalian semua adalah para guru-guru besar Islam dan sungguh telah kalian bicarakan maka bagi saya sudah tidak ada tempat untuk membicarakan, maka mereka berkata pada beliau ”tidak”, tetapi tetap berbicaralah. Maka beliau memuja dan memuji Alloh dan mulai berbicara sesuatu. Setelah itu maka Syaikh Izzuddin bin Abdis Salam yang menjadi sultonnya para ulama berteriak dari dalam perkemahan dan keluar sambil memanggil-manggilnya dengan suara keras. Kesinilah semua! Untuk mendengar pembicaraan yang dekat dengan kebenaran dari hadapan Alloh, maka dengarkanlah!

Dan padahal Syaikh Izziddin itu sebelum berkumpul dengan Syaikh Abi Chasan dia ingkar dengan kaum para sufi dan dia berkata, ”apakah ada toriqoh yang selain Qur’an dan hadits? Dan setelah Syaikh Izzidin berkumpul dengan Syaikh Abi Chasan dan setelah salut dan pasrah dengan kaum sufi dia berkata. ”Sebagian dari tanda yang agung yang menunjukkan adanya golongan kaum ahli tasawuf itu ialah, mereka sudah bisa mendudukkan agung-agungnya dasar agama yaitu mereka bisa meletakkan kekuasaan karomah-karomah dan yang luar kebiasaan manusia sedangkan para ahli fiqih belum bisa menguasai apa-apa kecuali hanya baru bisa menjalani di jalan-jalannya kaum sufi, seperti yang kelihatan di lahirnya saja. Maka setelah Syaikh Izzuddin berkumpul dengan kaum sufi dan setelah merasakan toriqoh yang telah dirasakan kaum sufi dan telah bisa memotong besi dengan lembaran kertas, maka dia memuji-muji terhadap kaum sufi dengan pujian yang sangat.

Syaikh Abi Chasan itu adalah memiliki manakib (sejarah bagus yang khusus) yang agung sebagian dari manakibnya ialah beliau terbuka untuk bisa melihat buku catatan orang-orang yang akan masuk ke toriqoh beliau dan lebarnya buku catatan tersebut ialah sepanjang batas pandangan mata, dari para murid yang baiat langsung pada beliau dan para murid yang setelah beliau wafat sampai akhir zaman, dan seluruh murid-murid akan dibebaskan dari neraka dan Syaikh Abi Chasan r.a diberi Bisyaroh (bebungah) sesungguhnya orang yang melihat beliau dengan rasa cinta dan mengagungkan dia tak akan celaka. Dan sebagian dari manaqibnya lagi ialah sesungguhnya beliau itu menjadi sebab keberuntungan para muridnya. Dan sebagian dari manaqibnya lagi ialah sesungguhnya beliau berdo’a pada Alloh semoga Alloh mengangkat wali-wali quthub sampai akhir zaman diambilkan dari golongan toriqoh Syadziliyah. Dan Alloh mengijabah do’a beliau, maka wali quthub hingga akhir zaman akan diangkat dari golongan toriqoh beliau. Dan sebagian dari manaqibnya lagi ialah Syaikh Abul Abbas berkata : ”ketika Alloh hendak menurunkan bencana secara umum maka golongan toriqoh syadzili diberi selamat dari bencana tersebut dengan karomahnya Syaikh Abil Chasan Asyadzili”. Dan sebagian dari manaqibnya lagi ialah Syaikh Syamsudin Al Chanafi r.a berkata ”Para ahli toriqoh Syadzaliyah itu diberi keunggulan 3 perkata sedangkan yang lainnya tidak diberi, yang pertama ialah sesungguhnya para ahli toriqoh syadzaliyah itu sudah dipilij dari luh mahfudz, yang kedua ialah sesungguhnya bila mereka jadzab bisa pulih kembali seperti semula, yang ketiga ialah sesungguhnya wali quthub yang setelah Syaikh Abil Chasan Asyadzili diambilkan dari ahli toriqoh syadzaliyah”. Dan sebagian dari manaqibnya lagi ialah sesungguhnya bila beliau mendidik murid-muridnya maka cukup sebentar saja sudah bisa menjadi futuh (terbuka). Dan sebagian dari manakibnya lagi ialah sesungguhnya Rosululloh saw telah mengizini siapa saja yang berdo’a kepada Alloh dengan tawasul kepada Syaikh Abil Chasan Asyadzili, karena Syaikah Abdullah berkata kepada Rosululloh saw tentang tingkah lakunya dari membaca sholawat kepada Rosululloh kemudian membaca Tarhibiyahnya (sifat kependetaan / menjauhi masyarakat) Syaikh Abil Chasan Asyadzili r.a kemudian berdo’a kepada Alloh dengan tawasul kepada Syaikh Abil Chasan Asyadzili, kemudian Syaikh Abdullah bertanya kepada Rosululloh ”Apakah yang seperti ini diizinkan atau tidak diizinkan?, maka Rosululloh menjawab ”Tingkah lakumu yang seperti ini diizini, sebab Syaikh Abi Chasan adalah juz (bagian) dari beberapa juz diriku dan barang siapa tawasul dengan juzku, itu seperti orang yang tawasul dengan diriku.

Syaikh Makinudin Al Asmuru r.a berkata ”Para guru toriqoh itu mengajak masyarakat duduk-duduk dipintu rohmatnya Alloh, tetapi Syaikh Abi Chasan Asyadzili mengajak masyarakat supaya masuk dihadapan Alloh.” Syaikh Abi Chasan Asyadzili berkata : ”sebagian dari nifaq ialah menampakkan dirinya melakukan sunah rosul saw, tetapi Alloh mengetahui dari orang itu bahwa ada maksud lainnya.” sebagian dari syirik yaitu menjadikan kekasih selain Alloh dan menjadikan penolong selain Alloh, Alloh telah berfirman ”kalian semua itu tidak mempunyai kekasih dan tidak ada yang menolong kalian semua selain Alloh apakah kalian semua tidak berangan-angan.”

Disebutkan dalam syarah qoridah seperti ini : ”sebagian dari mana aibnya Syaikh Abi Chasan Syadzili adalah beliau itu bila naik kendaraan para pembesarnya fuqoro’ dan ahli dunia mereka berjalan dikanan kiri beliau, bendera dikibarkan di atas kepala beliau, gelas minuman ditaruh dihadapannya dan perintah kepada pimpinan fuqoro’ supaya mengatakan : siapa yang menghendaki quthub supaya bertemu Syadzili. Dan Syaikh Abi Chasan r.a berkata : ”saya diberi oleh Alloh daftar sahabat-sahabat saya dan sahabat-sahabat saya sehingga hari kiamat, yang luasnya sejauh pandangan mata untuk membebaskan sahabat-sahabat saya itu dari neraka. Dan beliau juga berkata ”Andaikan tidak ada ikatan sariat dilisanku, saya bisa menceritakan kalian semua apa yang akan terjadi besok dan besoknya sampai hari kiamat.’

Syaikh Abi Chasan Asyadzili r.a itu adalah memiliki beberapa karomah yang banyak sekali yang tak ada yang bisa menghitungnya kecuali Alloh. Sebagian dari karomahnya ialah Alloh memberinya kunci setiap asma-asma sehingga andai setiap manusia dan jin dijadikan penulisnya pasti mereka kelelahan sedangkan ilmunya Syaikh Abil Chasan Asyadzili tidak akan habis. Sebagian dari karomahnya lagi ialah bagus budi pekertinya belas kasih pemurah, dari masa kecilnya, umur 6 tahun telah mengenyankan orang-orang kelaparan dari ahli negri Tunis dengan harta pemberian dari alam ghoib. Dan sebagian dari karomahnya lagi ialah beliau kedatangan Nabiyulloh Chidir A.S yang menetapkan beliau menjadi wali agung sejak masih anak-anak yang berusia 6 tahun. Dan sebagian dari karomahnya lagi ialah sesunguhnya beliau tahu dengan isi batinnya manusia. Dan sebagian dari karomahnya lagi ialah sesungguhnya beliau diberi bisa berbicara dengan malaikat dengan disaksikan dihadapan para murid-muridnya. Dan sebagian dari karomahnya lagi ialah sesungguhnya beliau bisa menjaga kepada para murid-muridnya walaupun berada ditempat yang jauh. Dan sebagian dari karomahnya lagi ialah sesungguhnya beliau bisa memperlihatkan ka’bah dengan jelas dari negara Mesir.

Dan sebagian dari karomahnya lagi ialah beliau tak pernah putus selalu melihat lailatul Qodr dari sejak baligh sampai wafatnya, sehingga beliau berkata :
Dan sebagian dari karomahnya lagi ialah sesungguhnya setiap orang yang mati yang dikubur yang bersamaan dengan penguburan beliau maka diampuni. Seluruh dosa-dosanya. Dan sebagian dari karomahnya lagi ialah beliau itu mustajab do’anya. Dan sebagian dari karomahnya lagi ialah sesungguhnya beliau tak pernah terhalang sekejab matapun selalu melihat Rosululloh di dalam 40 th, karena Syaikh Abul Abbas Al Mursiyu r.a berkata ”Bahwa Syaikh Abil Chasan berkata : dimasa 40 tahun saya tidak pernah terhalang dari melihat Rosululloh dan bila saya terhalang sekejab matapun maka saya tidak menganggap terhadap diri saya dari golongan orang-orang Islam (yang sempurna), dan karomah yang seperti ini adalah dari agung-agungnya karomah.

Sebagian dari karomahnya Syaikh Abi Chasan Asyadzili ialah ketika beliau datang di negara maghrib orang-orang kirim surat melaporkan kepada raja (Mesir) dengan laporan kejelekan Abi Chasan, kemudian beliau keluar dari Iskandariyah menghadap raja (Mesir), maka kemudian raja mempercayai kebenaran Syaikh Abi Chasan. Kemudian orang-orang tersebut melaporkan lagi kepada raja bahwa Syaikh Abi Chasan itu Kaimawy (pengusaha mas dari jin) maka hilangkah kepercayaan raja kepada beliau, ketepan saat itu sesungguhnya seorang penjaga rumahnya raja melakukan suatu perkara yang mengharuskan dihukum mati, maka penjaga tersebut ketakutan menghadapi raja dan lari ke Iskandariyah maka Syaikh Abi Chasan melindunginya, dan kemudian raja mengutus utusan untuk menangkap orang tersebut dan berkata kasar terhadap Syaikh Abi Chasan ”kau merusak budakku” lalu Syaikh Abi Chasan menjawab : saya adalah orang yang membuat kebaikan bukan kerusakan. Kemudian Syaikh Abi Chasan mengeluarkan budak tersebut dari persembunyiannya dan berkata : kencinglah diatas batu ini, maka ketika kencing dibatu tersebut. Seketika berubahlah menjadi mas kira-kira 5 qinthor (+ 5000 dinar), kemudian Syaih Abi Chasan berkata : ambilah mas ini berikan untuk raja supaya ditaruh di baitul maal (gudang negara), dan ketika sampai pada raja, raja kembali mempercayai Syaikh Abi Chasan dan meninggalkan tuduhan yang jelek. Lalu raja datang ziarah kepada Syaikh Abi Chasan dan minta kepada Syaikh Abi Chasan supaya budaknya kencing di atas batu yang dikehendaki raja, lalu Syaih Abi Chasan berkata : yang pokok itu adalah izin Alloh, dan selanjutnya raja selalu percaya terhadap Syaikh Abi Chasan dan menawarkan kepada Syaikh Abi Chasan harta dan jaminan-jaminan, tetapi Syaikh Abi Chasan menolaknya, dan beliau berkata : apakah seseorang yang pelayannya bisa kencing di atas batu kemudian menjadi emas dengan izin Alloh itu membutuhkan bantuan mahluq?

Sebagian dari karomahnya Syaikh Abi Chasan Asyadzily ialah : sesungguhnya beliau pernah suatu hari berbicara masalah zuhud, dan di majlis itu ada seorang faqir yang pakaiannya compang-camping, sedangkan Syaikh Abi Chasan berpakaian yang bagus, maka orang faqir tersebut berkata dalam hatinya ”Bagaimana Syaikh Abi Chasan ini? Beliau berbicara masalah zuhud sedangkan pakaiannya bagusnya seperti ini, sayalah orang yang zuhud terhadap dunia”. Kemudian Syaikh Abi Chasan menoleh melihat orang faqir tersebut, dan berkata : pakaianmu itu pakaian cinta dunia, karena pakaianmu itu memanggil masyarakat bahwa kamu itu orang faqir (mempunyai kedudukan dihadapat Alloh), tetapi pakaianku ini memanggil masyarakat bila saya orang kaya, orang yang cukup, dan menjaga dirinya (jangan sampai dianggap orang yang zuhud). Kemudian orang faqir tersebut berdiri dihadapan orang banyak dan berkata : Demi Alloh saya adalah orang yang berbicara dalam hatiku bahwa aku adalah orang zuhud (meninggalkan cinta dunia), maka aku mohon ampun kepada Alloh dan taubat pada Alloh. Kemudian Syaikh Abi Chasan memberi pakaian baru kepada orang faqir tersebut dan menunjukkan orang faqir tersebut supaya berguru terhadap orang yang disebut ibnu Dahhan dan beliau berkata : mudah-mudahan Alloh menjadikan hatinya orang yang bagus-bagus belas kasih kepadamu, dan mudah-mudahan Alloh memberi barokah terhadap apa yang telah diberikan kepadamu, dan mengakhiri hidupmu nanti dengan bagus.

Diantara karomahnya lagi ialah beliau pernah berkata : ”pada toriqoh yang saya jalankan ini, saya membawa ilmu yang belum pernah dibawa orang-orang sebelumku, dan juga pernah berkata : besok di Mesir akan muncul seorang laki-laki yang terkenal sebutannya Muhammad al hanafy, dipipi sebelah kanannya ada tai lalatnya, kulitnya putih kemerah-merahan, asalnya anak yatim yang faqir, akan menjadi kholifahku yang kelima setelahku, akan masyhur dizamannya dan mempunyai kedudukan yang luhur sekali.

Imam Syadzily itu bagaikan lautan di dalam ilmu-ilmu syari’ah dan ilmu alat-alatNya juga ilmu bathinnya syari’ah, karena beliau diberi ringkasan seluruh asma’-asma’ a’dhom warisan dari eyangnya yaitu rosululloh saw, dan oleh karena itu beliau pernah berkata : andaikata seluruh manusia dan jin dijadikan juru tulisku, pasti mereka kelelahan sedangkan ilmuku takkan habis.

Imam Syadzily itu pertama berguru mengambil nasab pada Syaikh Abdissalam al masyisy, kemudian tak mengambil nasab pada siapapun, tetapi justru mengambil nasab berguru pada sepuluh lautan, yang lima di langit dan yang lima di bumi. Maka dari itu ketika ditanya ”siapakah guru anda? Beliau menjawab : pertama yang menjadi nasab guruku ialah : Syaikh Abdul Salam, adapun sekarang saya tak mengambil nasab dari seorangpun, tetapi saya telah berenang (menciduk) ilmu dari 10 lautan yaitu 1- nabi Muhammad saw. 2- S. Abu Bakar ra. 3- S. Umar ra. 4- S. Utsman ra. 5- S. Ali ra. 6- Malaikat Jibril as. 7- M. Mikail as. 8- M. Isrofil as. 9- M. Izrooil as. 10- Ruhul Akbar solawatulloh wasalamushu alaihim ajmaiin.

Imam Syadzili itu adalah lebih ma’rifat-ma’rifatnya orang yang ada pada saat itu maka dari itu Syaikh Takiyuddin bin daqiq Al-’id ra berkata aku belum pernah melihat orang yang lebih ma’rifat pada Alloh dari pada Syaikh Abi Chasan Asyadzili beliau itu adalah orang yang luas dalam ilmu Hakikotnya. Sebagian yang menunjukkan bahwa beliau memiliki ilmu Hakikot Yang Agung ialah beliau pernah berkata : saya pernah diberi kabar gembira seperti ini. ”Hai Ali tak ada majlis ilmu fiqih yang lebih agung di atas bumi ini dari pada majlisnya Syaikh Izziddin Abdissalam sebagai sulton ulama, dan tak ada majlis ilmu hadits yang agung di atas bumi ini dari pada majlisnya Syaikh Abdil A’dim Al-Mundiri, dan tak ada majlis ilmu hakikot yang agung di atas bumi ini dari pada majlismu.

Syaikh Abi Hasab Asyadzili pernah berkata : ”Saya bertemu Rosul lalu saya bertanya apa hakikinya mengikuti? Rosul menjawab : ”Yaitu melihat orang yang diikuti dalam segala tingkah, dan bersama dalam segalanya, dan ada di dalamnya setiap waktu apa saja. Dan Syaikh Abi Chasan Asyadili juga berkata jika kamu ingin benar dalam setiap ucapan maka perbanyaklah membaca surat : ”Qulhuwallahu Ahad dan jika kami ingin mudahnya rizki maka perbanyaklah membaca surat kul a’udu birobbil falaq dan jika kamu ingin selamat maka perbanyaklah membaca surat ”Qul a’udu birobbinnas. Wali quthub Robbani Syaikh Abdul Wahab Assa’roni berkata : sebagian ulama berkata paling sedikitnya memperbanyak bacaan ialah 70 kali setiap hari sampai 700 kali.

Syaikh Abi Chasan berkata : ”Lebih benar-benarnya ucapan ialah ucapan Laailaaha illallaah dalam keadaan bersih. Dan Syaikh Abi Chasan juga berkata jika kamu ingin hatimu tidak jelek, tidak menemui kesusahan dan perihatin, dan tidak terus-menerus ke tempat dosa, maka perbanyaklah membaca : ”Subhaanallaahi wa bihamdihi subhanallaahil adhiim laailaahaillahuwa. Allaahumma tsabbit ’ilma haa fi qolbii wagfirlil dzanbii.

Syaikh Abi Chasan R.A berkata : kamu jangan memilih suatu perkara, dan pilihlah perkara yang tidak dipilih. Dan Syaikh Abi Chasan juga berkata : para wali itu tidak butuh segala sesuatu, cukup dengan mempunyai Alloh, dan mereka cukup bersama Alloh tanpa pemikiran dan pilihan lain. Sedangkan para orang ’alim mempunyai pemikiran dan pilihan untuk kebaikan dan pembicaraan untuk mendapatkan faidah-faidah.

Syaikh Abi Chasan Asyadzili R.A berkata ada satu perkara yang bisa menghancurkan beberapa amal, dan kebanyakan manusia tidak mengingatnya yaitu bencinya hamba pada qodo’ Alloh (ketentuan Alloh), dan juga ada dua kebaikan yang menjadikan tidak akan berbahaya dengan banyaknya kejelekan yaitu rido dengan qodo’ Alloh dan memaafkan hamba Alloh dan beliau juga berkata seorang hamba tak akan bisa menghindar dari neraka kecuali mencegah anggota badannya dari maksiat pada Alloh dan menghiasi dirinya dengan menjaga amanat Alloh dan membuka hatinya untuk melihat Alloh dan membuka lisan dan batinnya untuk munajat pada Alloh dan menghilangkan hijab (tirai) diantara dirinya dan diantara sifat-sifat Alloh dan mensaksikan dirinya terhadap ruh-ruh kalimat Alloh kepada Alloh.

Syaikh Abil Chasan Asyadzili berkata : ”ketika dzikir terasa berat dilisanmu dan banyak sia-sianya dalam ucapanmu dan tergelarnya anggota badan dalam syahwatmu dan buntunya pintu pemikiran dalam kebaikanmu maka ketahuilah sesungguhnya yang seperti itu dari besarnya dosamu atau adanya irodah (kehendak) munafik di dalam hatimu dan tidak ada jalan untukmu kecuali satu jalan yaitu taubat dan berbuat baik, dan mohon perlindungan Alloh, dan ihlas di dalam agama Alloh. Apakah kau tidak mendengarkan firmah Alloh : ”kecuali orang-orang yang mau bertaubat dan berbuat baik, minta perlindungan kepada Alloh dan membersihkan agama mereka, maka mereka itulah orang-orang yang bisa bersama-sama dengan orang-orang mukmin”. Dan Alloh tidak mengatakan dengan perkataan : sebagian dari golongan orang-orang mukmin maka berangan-anganlah dengan perkara ini jika kamu menjadi orang pandai”.

Syaikh Abil Chasan Asyadzili berkata : ”Apabila ilmu kasafmu (terbukanya hati) bertentangan dengan qur’an hadits, maka berpeganglah dengan qur’an dan hadits dan tinggalkan saja ilmu kasafmu dan katakan pada dirimu : Sesungguhnya Alloh menjamin menjaga saya di dalam qur’an hadits, dan tidak menjamin (tidak bertanggung jawab) dari arah ilmu kasaf, ilmu ilham (bisikan), ilmu musyahadah (melihat perkara goib), dan juga para ulama sepakat sebaiknya tidak mengamalkan ilmu kasaf, ilmu ilham, ilmu musyahadah kecuali setelah ditinjau sesuai qur’an hadits”.

Dan beliau juga berkata : ”Bila ada seseorang menghalangimu menuju Alloh maka tetap teguhlah dan mantaplah, Alloh telah berfirman : Hai orang-orang yang beriman bila kalian bertemu menghadapi suatu qoum (golongan) maka tetap teguhlah dan berdzikirlah (berdo’alah) pada Alloh dengan banyak supaya kalian semua beruntung”.

Syaikh Abil Chasan Asyadzili berkata : ”setiap ilmu yang tergerak dalam hati yang digerakkan oleh nafsu dan nafsu merasa lezat dengan ilmu tersebut maka buanglah walaupun ilmu itu haq dan ambilah ilmunya Alloh yang diberikan Rosululloh kemudian ikutlah kepada Rosululloh dan kepada kholifah, kepada para sahabat, dan para tabi’in dan para imam-imam yang mendapat hidayah yang menjauhkan kehendak dan perintah hawa nafsu. Maka kamu akan selamat dari beberapa keraguan dan beberapa prasangka dan beberapa penarik dusta yang menyesatkan yang menyimpang dari hidayah dan haqiqinya hidayah. Dan beliau juga berkata termasuk sebagian dari lebih menjaganya penjaga dari terjerumus ke dalam cobaan terhadap ma’siat dan dosa. Adalah istigfar, Alloh telah berfirman : Dan tidaklah Alloh itu menyiksa mereka (ahli Makkah) sedangkan mereka lagi mohon ampun.”

Syaikh Abil Chasan r.a berkata : ”Bila kamu majlisan (duduk-duduk) dengan para ulama maka janganlah kamu membicarakan kepada mereka kecuali ilmu yang dinukil dari ketentuan qur’an dan riwayat-riwayat hadits yang shohih, adakalanya berfaidah untuk mereka atau kamu yang mengambil faidah dari mereka yang seperti itu adalah keuntungan yang besar dari mereka. Dan jika kamu majlisan dengan ahli ibadah dan ahli zuhud (ahli bertapa) maka duduk-duduklah ke dalam mereka dengan apa yang mereka anggap baik dan buatlah mudah atas masalah-masalah yang mereka anggap sulit dan berilah mereka rasa ma’rifat yang mereka belum merasakannya. Dan jika kamu majlisan dengan ahli shidiqin maka, pisahkanlah dengan apa yang kau ketahui maka kamu akan mendapat ilmu yang tetap. Dan Syaikh Abil Chasan Asyadzili berkata : ”termasuk sulit-sulitnya manusia ialah orang yang senang bisa orang-orang tunduk dengan mu’amalahnya sehingga orang-orang tersebut sesuai dengan segala yang ia inginkan sedangkan dirinya sendiri tidak bisa menemukan kehendak nafsunya sendiri, maka carilah nafsumu dengan memuliakan manusia dan jangan kau mencari manusia agar mereka memuliakanmu, dan jangan kau memaksa kecuali terhadap nafsumu sendiri.”

Syaikh Abil Chasan r.a berkata : ”saya telah menghentikan manfaat dari saya untuk diri saya sendiri, maka bagaimana tidak bila saya memutuskan manfaat orang lain untuk diri saya. Dan saya mengharapkan kepada Alloh untuk kemanfaatan orang lain maka bagaimana tidak bila saya mengharap kepada Alloh untuk kemanfaatan diri saya sendiri. Syaikh Abil Chasan Asyadzili juga berkata : janganlah kau cenderung dengan ilmu dan jangan kepada kekuatan tetapi cenderunglah kepada Alloh. Dan jangan sampai kau menyebarkan ilmumu hanya agar manusia membenarkan dirimu tapi sebarlah ilmumu agar menjadi lantaran Alloh membenarkanmu. Dan dari perkataan beliu tersebut di atas sudah cukup untukmu bila Syaikh Abil Chasan Syadzili itu adalah dari golongan orang-orang ahli ma’rifat, ahli zuhud, ahli membersihkan diri, ahli fiqih (pandai) dalam agama, ahli muroqobah, dan menjadi gurunya orang-orang besar.”

Syaikh Abil Chasan r.a pernah berkata kepada para sahabatnya : ”makanlah dari makanan yang enak-enak dan minumlah dengan minuman lebih lezat lebih segar dan tidurlah dikasur-kasur yang empuk dan pakailah pakaian yang lebih halus, lebih bagus, maka sesungguhnya diantara kalian semua ketika melakukan seperti itu dan mengucapkan Alhamdulillah maka seluruh anggota badan bisa menerima untuk bersyukur. Berbeda dengan makan makanan jelek, roti kasar dengan garam dan memakai pakaian kasar yang jelek dan tidur di atas bumi dan minum dengan air panasnya matahari dan setelah itu mengucapkan Alhamdulillah maka sesungguhnya ucapannya itu tercampur dengan rasa terpaksa dan kurang ikhlas (gerundel) dan sebagian dari rasa benci dengan takdirnya Alloh. Dan sesungguhnya apabila kalian melihat dengan mata hati sudah pasti bisa menemukan kejengkelan dan rasa kebencian tersebut yang kembali kepada dosa bagi orang-orang yang mengambil kenikmatan perkara dunia dengan yakin. Maka sesungguhnya yang dinamakan orang yang mengambil kenikmatan perkara dunia itu ialah melakukan perkara yang telah diwenangkan oleh Alloh swt dan barang siapa punya rasa jengkel dan benci maka sungguh berarti telah melakukan perkara yang diharamkan oleh Alloh swt. Ucapakan seperti ini adalah sebagian dari tanda bahwa Syaikh Abil Chasan r.a sebagian dari golongan ahli muroqobah (mengintai & meneliti) terhadap tingkah lakunya hati dan termasuk sebagian dari golongan ahli syukur.Beliau juga berkata : ”murid toriqoh tak akan meningkat sama sekali kecuali setelah jelas benar-benar cinta kepada Alloh SWT, dan murid tak akan bisa benar-benar cinta Alloh sehingga benci dunia, dan ahli dunia, dan zuhud dengan kenikmatan dunia dan akhirat. Dan beliau berkata lagi : setiap murid toriqoh tentu ada rasa cinta dunia, maka Alloh akan membencinya menurut banyak sedikitnya di dalam cintanya terhadap dunia. Maka murid supaya membuang dunia lepas dari tangannya dan dari hatinya ketika awal masuknya di dalam toriqoh, dan ketika ada murid meminta talqin (pengajaran secara berhadap-hadapan) dengan guru atau mengambil janji terhadap guru sedangkan dia cenderung kepada dunia, maka dia harus kembali dari mana asal tempat datangnya, dan toriqohnya akan membuang dirinya. Maka sesungguhnya paling sedikitnya sebagai dasar murid masuk toriqoh yaitu zuhud di dalam bab dunia, maka barang siapa tidak zuhud di dalam bab dunia maka tidak sah baginya dibangun sesuatu diakhirat”.

Syaikh Abi Chasan Asyadzily pernah berkata : telapakku bisa di atas jidatnya para wali-wali :
Ada di (kalangan) toriqoh itu tidak ada karomah yang lebih besar daripada karomah (berupa) iman, dan manut pada sunah Nabi, siapa orangnya yang sudah diberi iman dan bisa manut pada sunah Nabi, kemudian menginginkan selain yang kedua tadi, (jelas) orang itu hamba yang berpura-pura dan ahli bohong.

Tidak ada dosa besar yang lebih besar dari pada dua perkara : (yaitu) cinta dunia sampai memilihnya (artinya menganggap lebih penting dari pada akhirat) dan terus menerus (berada di dalam) kebodohan sampai ridho. Karena cinta dunia itu sumber setiap kesalahan dan terus menerus (berada di dalam) kebodohan itu sumbernya maksiat.

Kamu jangan terlalu meninggalkan dunia. Yang bisa menjadi sebab gelapnya dunia (menyelimuti harimu) dan menjadi lemah anggota badanmu. Yang akhirnya kamu kembali merangkul dunia setelah keluar dari dunia dengan Himmahmu (cita-citamu) atau fikiranmu atau keinginan atau gerakmu.
Kamu supaya menetapkan perkara lima yang membersihkan badanmu yang ada dalam perkataan yaitu : ”subhaanallaahi wal hamdulullaahi wa laa ilaaha illallaahu wallaahu akbaru wa laa hau la wa laa quwata illaa billaahi”. Dan perkara lima yang membersihkan badanmu yang ada dalam pekerjaan yaitu solat lima waktu dan membersihkan badan dari rasa memiliki daya dan kekuatan.

Tandanya orang yang mendapat kebahagiaan di akhirat, yaitu : orang yang tahu kebenaran lalu mau tawadu’ pada orang yang ahli kebenaran walaupun melakukan kejelekan apa saja. Dan tandanya orang yang celaka di akhirat yaitu orang yang menentang kebenaran dan menyombongi pada orang yang ahli kebenaran walaupun melakukan kebaikan apa saja.

Syaikh Abil Chasan Asyadzili berkata : ”ichlas yaitu nur dari Alloh yang diletakkan dihati hamba Alloh yang beriman, kemudian nur ikhlas tersebut bercabang menjadi 4 kehendak :
1. Kehendak ikhlas di dalam beramal karena mengagungkan Alloh
2. Kehendak ikhlas karena mengagungkan perintah Alloh
3. Kehendak ikhlas karena mencari pahala dari Alloh
4. Kehendak ikhlas di dalam membersihkan amal dari yang berbau mencari selain Alloh, dan tidak menjaga selain karena Alloh.

Dan Syaikh Abil Chasan juga berkata : ”karomahnya orang-orang sidikin (orang-orang yang bersungguh dalam beriman kepada Alloh) itu ada 5 :
1. Langgengnya dzikir dan ta’at (ibadah kepada Alloh) dengan syarat istiqomah.
2. Zuhud (meninggalkan cinta dunia), senang mengambil sedikit dari dunia.
3. Memperbarui keyakinannya ketika ada macam-macam perkara yang menghalang-halangi kesungguhannya dalam beriman.
4. Resah bila berkumpul dengan orang yang ahli manfaat dan tenang bila berkumpul dengan orang yang ahli madhorot.
5. Apa yang dzohir pada dirinya seperti melipat bumi, berjalan di atas air dan lain-lain
Yang tidak berlaku di dalam kebiasaan manusia, kejadian yang seperti ini ada waktunya dan ada pada orang yang tertentu dan ada tempat tertentu. Jadi barang siapa yang mencari karomah yang ada dilain waktunya jarang .

Sekali bisa menemukan karomah badan yang seperti itu. Ringkasnya orang yang mencari karomah tidak akan diberi karomah, begitu juga orang yang hatinya membicarakan karimah dan usaha mencari karomah, yang diberi karomah badan itu khusus orang yang tidak melihat dirinya dan tidak melihat amal. Tetapi orang yang sibuk melihat apa yang disukai Alloh selalu melihat anugrahnya Alloh putus dari melihat dirinya dan amalnya.

Syaikh Abil Chasan berkata : ”Ada perkara lima yang barang siapa tidak ketempatan sesuatu dari perkara lima itu, maka dia tidak mempunyai iman :
1. Membenarkan perkaranya Alloh
2. Ridho kepada qodhonya Alloh
3. Pasrah kepada perkaranya Alloh
4. Tawakal kepada Alloh
5. Sabar ketika awalnya menghadapi bala’nya Alloh (bencana dari Alloh)
Syaikh Abil Chasan berkata : ”yang dinamakan ma’rifat yaitu : perkara yang mengajukan dirimu meninggalkan dari selain Alloh dan mengembalikan dirimu kepada Alloh”.

Syaikh Abil Chasan berkata : ”Ada dua perkara yang memudahkan melewati jalan menuju Alloh yaitu :
1. Ma’rifat kepada Alloh
2. Cinta kepada Alloh
Cintamu kepada suatu perkara itu menjadikan buta matamu dan tuli telingamu”

Syaikh Abil Chasan berkata : ”Bila kamu berkehendak selalu langgeng melihat Alloh dengan mata keimanan dan keyakinan, kamu supaya selalu mensyukuri nikmat Alloh, selalu ridho kepada qodhonya Alloh, dalam al-qur’an telah dikatakan ”apa saja nikmat yang ada pada diri kalian, itu semua dari Alloh, kemudian jika kau mengalami kemadhorotan, tentu kalian kembali minta pertolongan Alloh”.

Sebagian dari perkataan Syaikh Abil Chasan ialah : ”selalu tetaplah mohonlah ampun kepada Alloh walaupun tidak melakukan dosa dan ambillah ibarat dengan istigfarnya Rosululloh saw setelah menerima kabar gembira dari Alloh dan yakin dengan ampunan Alloh atas seluruh dosa yang telah dilakukan dan yang akan dilakukan. Ya seperti ini untuk Rosululloh yang ma’sum (yang dijaga dari perbuatan dosa), yang tidak pernah melakukan dosa sama sekali dan bersih dari dosa. Lalu bagaimana anggapanmu terhadap orang yang tidak sepi dari cela dan dosa sewaktu-waktu”.

Syaikh Abil Chasan berkata : ”Ada satu kelakuan baik yang bila seorang hamba mau melakukan, bisa menjadi pimpinan masyarakat yang ada di masanya, yaitu : berpaling dari dunia (hatinya tidak lekat dengan harta/kedudukan), dan menahan sakitnya hati dari orang yang ahli dunia”.

Syaikh Abil Chasan berkata : ”Jika kamu hendak berhutang kepada orang lain supaya hatinya menghadap kepada Alloh, dan berhutang atas namanya Alloh (di dalam hatinya), karena setiap apa-apa yang dihutang oleh hamba atas namanya Alloh maka Alloh akan menanggung pembayarannya”.

Syaikh Abil Chasan berkata : ”Barang siapa yang mengajak (masyarakat) kepada Alloh dengan selain apa yang diajarkan oleh Rosululloh maka orang itu ahli bid’ah”.

Syaikh Abil Chasan berkata : ”Bila ada orang fakir (murid toriqoh) tidak selalu (ajek) datang sholat lima waktu di dalam berjamaah, tidak perlu kau urusi”.
Syaikh Abil Chasan berkata : ”Jika kau menganggap bagus sebagian dari tingkah lakumu yang batin dan dzohir dan kamu kuatir hilangnya, maka supaya kamu membaca : ”masya Alloh Laa Quawwata illa billah”.

Syaikh Abil Chasan berkata : ”Setiap karomah yang tidak dibarengi ridho dari Alloh, dan tidak dibarengi ridho orangnya yang karomah itu kepada Alloh, dan tidak dibarengi cintanya Alloh atau cintanya hamba kepada Alloh, orang yang mempunyai karomah tersebut dilulu oleh Alloh (istidroj) yang ditipu oleh syaithon, atau orang yang kurang sempurna, orang yang rusak berantakan”.

Syaikh Abi Chasan ra berkata : wali quthub itu memiliki 10 karomah, barang siapa mengaku memiliki karomah 10 ini atau sebagian dari 10 ini supaya diperlihatkan :
1. Bisa memberi bantuan yang berupa rohmat husus dan penjagaan yang husus dari Alloh.
2. Bisa memberi bantuan sebagai pengganti salah satu wiliyulloh dan pengganti quthub.
3. Bisa memberi bantuan dari malaikat yang menyangga arasy.
4. Dibuka hatinya dari haqiqinya dzat dan mengusai macam-macamnya sifat.
5. Diberi kemulyaan menetapkan dan memisahkan antara dua wujud.
6. Pisahnya keadaan awwal dari keadaan awwal dan apa yang berpisah dari awwal sampai ujungnya dan apa yang telah tetap pada keadaaan awwal.
7. Kemulyaan menghukumi apa yang ada pada sebelumnya awwal.
8. Hukumnya apa yang sebelum awwal.
9. Hukum bagi orang yang tadi mempunyai sifat sebelumnya dan sifat sesudahnya.
10. Ilmu badi’ yaitu ilmu yang meliputi seluruh ilmu dan seluruh yang diketahui, yang lahir dari sirr yang awal sampai ujungnya kemudian kembali kepada awal.

Syaikh Abi Chasan r.a berkata :
Barang siapa yang menghadap mahluq secara keseluruhan sebelum sampai pada tingkat kesempurnaan dirinya, tentu gugur dari perhatiannya Alloh, maka dari itu kalian semua supaya takut dengan penyakit yang besar ini, banyak sekali orang yang senang hatinya menghadapi masyarakat dan merasa puas sebab menjadi orang yang terkenal dan dicium tangannya oleh masyarakat, maka dari itu kalian semua supaya berpegang teguh dengan penjagaan Alloh menuju jalan yang lurus.

Syaikh Abi Chasan r.a berkata :
Penglihatan mata hati itu sama dengan penglihatan mata kepala, kejatuhan kotoran sedikit saja tidak bisa melihat walaupun tadi sampai buta, kemauan melakukan kejelekan sekali saja itu bisa mengotori pandangan mata hati dan bisa mengeruhkan fikiran dan kehendak (ma’riifat Alloh), dan bisa menghilangkan perbuatan baik sama sekali, melakukan kejelekan yang timbul dari suara hati tersebut, bisa membawa orang yang memiliki kelakuhan jelek itu dari bagian Islam, bila orangnya terus menerus melakukan kejelekan itu, Islam lepas dari orang itu satu bagian-satu bagian, bila sampai menggunjing dan memaki ulama’ dan orang-orang sholeh dan berkasih-kasihan dengan orang, dholim karena cinta dengan kedudukan dihadapan orang dholim tersebut, seluruh bagian-bagian Islam lepas dari orang itu. Kamu jangan sampai kena pengaruh oleh pakaian atau lagak orang yang seperti itu, karena orang yang seperti itu adalah tidak memiliki ruuh Islam, karena ruh Islam itu adalah cinta Alloh dan cinta Rosul Alloh dan cinta Ahirat dan cinta hamba Alloh yang sholih-sholih.

Syaikh Abi Chasan berkata :
Tidak ada taqwa bagi orang yang cinta dunia, yang memiliki taqwa itu hanya orang yang berpaling dari dunia.

Syaikh Abi Chasan berkata :
Jika kamu hendak melakukan suatu ’amal untuk dunia dan akhirot kamu supaya mengucap ”yaa qowiyyu yaa ’aziizu yaa ’aliimu yaa qodiiru yaa samii’u yaa bashiiru.

Syaikh Abi Chasan r.a berkata : kau tadi akan merasa baunya kedudukan menjadi walinya Alloh bila tidak benci dunia dan tidak benci orang yang ahli dunia.

Syaikh Abi Chasan r.a berkata :
Setiap kebaikan yang tidak menimbulkan nuur atau ilmu disaat melakukan, itu jangan kau anggap kalau kebaikan itu ada pahalanya, dan setiap kelakuhan jelek yang menimbulkan rasa takut kepada Alloh dan kembali kepada Alloh, itu jangan kau anggap dosa yang berbahaya.

Syaikh Abi Chasan r.a berkata :
Hati-hati jangan sampai pandangan mu itu berhenti terhadap mahluq, tetapi kau supaya menghentikan pandanganmu terhadap kemanfaatan dan kemadhorotan meninggalkan memandang mahluq, karena seluruh kemanfaatan dan kemadhorotan itu tidak keluar dari mahluq. Kau supaya melihat seluruh kemanfaatan dan kemadhorotan itu keluar dari Alloh terhadap dirinya mahluq, dan kau hendaknya lari kepada Alloh dari mahluq dengan memperhatikan taqdir yang berjalan pada dirimu dan yang berjalan pada diri mahluq, atau taqdir yang memberikan manfaat untuk dirimu atau bermanfaat untuk mahluq, kau jangan sampai takut yang menjadi sebab kau lupa dari Alloh jika kau berbuat seperti itu (mengembalikan taqdir kepada mahluq), kau akan kerusakan.

Syaikh Abi Chasan berkata : Barang siapa meninggalkan ma’syiat pada anggota lahirnya dan membuang cinta dunia pada bathinnya dan selalu menjaga anggota lahirnya dan hatinya dari ma’syiat, orang itu akan menerima tambahan dari Tuhannya dan Alloh menugaskan malaikat yang menjaga orang itu dari hadapat Alloh, dan Alloh akan mengambil dan menarik orang itu pada setiap perkaranya ketika jatuh atau naik, tambahan yang akan diterima yaitu tambahan ilmu dan keyakinan dan kema’ripatan.

Syaikh Abi Chasan berkata : kau jangan menunda-nunda to’at pada sewaktu-waktu pada waktu yang lain maka kau akan disiksa sebab putusnya to’at itu atau sebab putusnya to’at lainnya atau putusnya to’at yang sama dengan to’at itu sebagai tebusan waktu yang kau sia-siakan. Karena setiap waktu itu ada bagian to’atnya, maka kewajiban menghambakan diri atasmu itu menuntun dirimu dengan hukum ketuhanannya Alloh.

Syaikh Abi Chasan r.a berkata : dalam menuju wusul kepada Alloh (sampai) itu tidak dengan sifat kependekatan (menjauh dari masyarakat), dan tidak dengan makan syair (makanan yang kasar), atau lebihan rontokan gandum, tetapi sesungguhnya jalan wusul kepada Alloh itu hanya dengan melaksanakan perintah Alloh dan yakin berada di bawah petunjuk Alloh, Alloh telah berfirman : ”Kami telah menjadikan mereka (bani israil) pimpinan masyarakat yang menunjukkan agama kami ketika mereka bersabar dan yakin dengan ayat-ayat kami.

Syaikh Abi Chasan berkata : berhati-hatilah jangan sampai kau terjerumus pada perbuatan maksiat satu kali setelah mengulangi lainnya, karena orang yang melanggar undang-undang Alloh itu dia adalah orang dholim, dan orang yang dholim itu tidak bisa menjadi imam (panutan). Barang siapa yang meninggalkan maksiat dan sabar menghadapi ujian Alloh dan yakin dengan janji-janji Alloh dan ancaman-ancaman Alloh maka dia itulah imam walaupun pengikutnya sedikit.

Syaikh Abi Chasan berkata : Bila Alloh menghina seorang hamba, apa yang menjadi kepentingan nafsunya orang tersebut dibuka oleh Alloh, dan apa yang menjadi aib dirinya dan agamanya (ibadahnya) di tutup oleh Alloh, maka orang yang seperti itu berbolak-balik bersenang-senang menuruti kesenangan hawa nafsunya sehingga menjadi kerusakan agamanya tanpa terasa (sedangkan masyarakat menganggap dia orang utama).

Syaikh Abi Chasan berkata : setiap orang yang mengaku hatinya futuh (dibuka oleh Alloh) tetapi dirinya berpura-pura di dalam to’at ibadah kepada Alloh atau tamak dengan apa yang ada di tangan mahluq Alloh maka orang itu bohong.

TENTANG TASAWWUF

Jadi dalam Islam ini sebenarnya tidak ada pertentangan, yang ada hanya berupa tingkatan pemahaman, kita punya dalil yang bisa menguatkan argumentasi kita, orang juga punya dalil sebagai penguat alasan terhadap suatu ilmu, jadi bukanlah alasan, jika dalam perbedaan pendapat ini menjadikan suatu kecaman terhadap orang lain, lebih utama pengetahun orang lain itu diterima sebagai tambahan bagi penyempurnaan ilmu yang kita miliki bukan dijadikan sebagai bahan untuk memperlebar pertentangan dan permusuhan yang akibatnya akan menimbulkan kekeruhan dalam Islam itu sendiri, dan lebih fatal berakibat menghancurkan Islam itu sendiri tanpa disadari.

Mengapa sebagian orang Islam sendiri mengecam tasawuf? Terhadap aliran yang menfokuskan tujuan untuk membersihkan buah/batin karena asosiasi mereka telah dikeruhkan oleh mistik dan yang sejenis diluar Islam dan sukarnya mereka tidak bisa memisahkan hal tersebut sehingga dengan cepat dan singkat mengambil sesuatu keputusan bahwa tasawuf itu berasal dari aliran-aliran kebatinan/ mistik bukan dari Islam. Hal ini sebenarnya suatu kesimpulan yang terlalu dini (terlalu pagi) kurang berhati-hati jadi aliran tasawuf sebenarnya bukan seperti yang diduga oleh sebagian orang tersebut kalaulah ada keserupaan dalam hal tertentu namun jelas tidak akan sama, dan orang yang menentang tasawuf (toriqoh) justru adalah orang yang menyamakan/mengidentikan aliran tasawuf dengan aliran mistik diluar Islam, perbedaan itulah yang akhirnya mengerahkan pikiran orang tersebut, sedangkan tasawuf yang diluar volusi pikiran orang tersebut, kelak kita memberi segi kesamaan dalam cara peribadatan antara orang Islam dan orang diluar Islam tentu akan kita temukan kalau orang Islam sholat menghadap kiblat yakni ka’bah sedang diluar Islam menyembah berhala apa itu tidak serupa? Tapi jelas tidak sama dalam tujuan dan hakikatnya yang sebenarnya, lantas apakah kita katakan bahwa Islam berasal dari suatu agama yang bukan Islam? Jelas tidak, jelas bukan, demikian juga halnya dengan tasawuf tentuk tidak akan menyamakan bagi orang yang mau berfikir sekaligus merenungkan dan memahami namun kita pun tidak menutup mata bahwa memang ada yang mengaku dari aliran tasawuf yang mendapat pengaruh-pengaruh dari kebudayaan diluar Islam. Jadi kesalah pahaman dalam bidang tasawuf tersebut hanya disebabkan orang yang tidak memahami tasawuf dan hakikotnya yang terkandung didalamnya, jadi yang sebenarnya tidak mengenal sama sekali pengetahuannya tentang tasawuf hanya membaca buku-buku atau hanya sekedar mendengar dari ucapan orang lain dan tidak langsung menanyakan atau mendengar penjelasan dari seseorang yang ahli tasawuf sehingga terjadi kesalah pahaman, suatu contoh dawuhnya Syaikh Ibny Arobi yang menceritakan hakikot tasawuf dengan mempertemukan bahasa yang bukan bahasa umum akhirnya mengundang daya tanggap dari orang lain yang sebetulnya dia tidak tahu tasawuf sehingga keluar ucapan-ucapan yang cukup bermutuh dan kesimpulan yang terlalu dini dan agak kurang berhati-hati karena orang mengira sebagaimana ucapan ibnu ’Araby tersebut sama dengan pisang goreng yang tidak bisa disantap akhirnya orang menyantap pisang goreng ibnu ’Araby tersebut jadi mual perutnya dan akhirnya muntah-muntah dan tentu saja dia jadi sewot dengan Ibnu ’Araby dan mengutuk kepada Ibnu ’Araby, sebab ternyata yang dikira pisang goreng yang sudah siap disantap tersebut adalah merupakan bahan mentah seperti masih jadi tepung, pisang dan alat penggoreng yang tidak bisa dimakan begitu itu. Kalau pun dimakan tidak enak rasanya, (maka ucapan orang tasawuf yang merupakan Isyaroh jangan kau telan begitu saja), begitu juga ucapan-ucapan yang dikeluarkan orang ahli tasawuf, jangan langsung disantap, tapi kita harus juga mengikuti perbuatan mereka dalam memproses pisang goreng tersebut sampai pisang goreng itu jadi dan siap untuk disantap, barulah kita akan merasakan pisang goreng yang mereka produksi. (Jadi jangan mengira ilmu tasawuf itu sebagai klenik, padahal kita wajib belajar ilmu tiga ini yaitu : ilmu fiqih, ilmu tauhid, dan ilmu sufy).

Kalau sudah pagam hal ini kau juga harus memahami ucapan-ucapan ahli tasawuf, ikutlah perbuatan mereka, pelajarilah ilmu-ilmu mereka dan kerjakanlah seluk beluk toriqoh mereka, seperti membersihkan diri lahir batin dari perbuatan tercela, mensucikan hati, benci terhadap dunia, tidak bersifat matrealis, tawaduk, rendah hati, cinta kepada sesama makluk Alloh, mengalahkan kepentingan diri sendiri untuk kepentingan orang lain cinta terhadap Alloh dan sebagainya. Nah bila sifat-sifat semacam itu sudah menjadi hiasan bagi diri kita barulah akan mampu memahami setiap kalimat yang diucapkan ahli sufi. Janganlah mengatakan sesuatu atas dasar kebodohan terhadap sesuatu yang kita katakan tersebut, karena kita mungkin saja mengatakan sesuatu tidak benar karena kita tidak memahami yang bakal kita katakan / kita salahkan tersebut dan jangan mengukur ilmu tadi (ilmu Ibnu ’Aroby) disamakan dengan ilmu kita, sebab mungkin kita baru duduk disekolah dasar sedangkan Ibnu ’Aroby sudah duduk ditingkat mahasiswa, jelas otak kita ini tidak mampu mencerna pendapat-pendapat orang yang sudah di universitas, oleh karena itu bila kita hanya berpegang pada suatu ilmu maka mudah sekali menyatakan salah terhadap orang lain atau satu ajaran yang dibawanya karena kita belum memahami ilmunya orang lain, jadi haqiqotnya bukan orang lain yang salah, tapi kita sendiri yang belum mampu mencerna ilmu yang dimiliki orang lain. Untuk mencapai kesempurnaan ilmu, pelajarilah gabungan dari ilmu ketiga itu. Seperti ilmu tauhid, ilmu fiqih dan ilmu tasawuf. Jika salah satu dari ilmu ditinggalkan, membawa kearah terpecah. Bukankah dalam Islam kita diperbolehkan sekedar mempelajari ilmu sihir, ini hanya sekedar untuk mengetahui ilmu tersebut, tapi dilarang untuk mengamalkannya, oleh sebab itu saya menyatakan di dalam Islam tidak ada pertentangan dan pertentangan itu ada di dalam kamus orang yang bodoh, tidak pada orang yang jernih fikirannya.

Jadi apabila ketiga ilmu tersebut dipisahkan akan membuat manusia tidak akan sempurna, sebab dengan belajar ilmu tauhid kita bisa mengenal Alloh, dan mempelajari ilmu fiqhi kita bisa mengetahui bagaimana cara-cara beribadah kepada Alloh, dan dengan belajar ilmu tasawuf kita akan mendapat pelajaran bagaimana agar dapat ihlas dalam melaksanakan amal ibadah, dengan demikian barulah kita akan mendapat mencapai ke suatu tingkat hamba Alloh dan barulah kita akan dapat mencapai derajat ”insan kaamil”. Dengan demikian jelaslah bahwa ketiga ilmu tersebut merupakan mata rantai yang saling menguatkan satu dengan yang lainnya dan tidak dapat dipisahkan, maka bilamana dipisahkan akan membawa kehancuran dan perpecahan baik bagi diri kita sendiri maupun bagi orang lain. Jadi untuk mencapai kesempurnaan yang kita harapkan kita harus mengintegrasikan bagian-bagian dari gabungan ketiga ilmu tersebut. Suatu misal, sama halnya seperti orang yang memisahkan antara air, kopi, dan gula, maka jika integrasi dari tiga unsur itu ditinggalkan salah satu unsurnya, maka kita tidak akan bisa merasakan atau menikmati kopi yang sedap, kalau tidak ada gula kopi pahit namanya, maka rasanya tentu tidak enak, seperti halnya diberi gula, bila hanya kopi dengan gula sedangkan airnya tidak ada juga tidak bisa dinikmati. Air kita umpamakan ilmu tauhid, dan juga pokok dari segala-galanya suatu perbuatan tanpa didasari suatu keimanan tauhid tidak akan menghasilkan apa-apa. Contoh lagi rumah tanpa tiang tidak akan bisa berdiri, sedangkan kopi kita ibaratkan fiqhi dan dinding, dan gula bisa kita ibaratkan tasawuf penyedap dari semua unsur yang telah disebut tadi dan merupakan atap bagi rumah, kalau rumah tanpa atap bukan rumah namanya. Dengan mengintegrasikan ketiga unsur tersebut barulah sempurna menjadi kopi yang sedap dan rumah yang baik, dan agama yang Islamy, maka air ibaratnya ilmu tauhid, kopi ibaratnya ilmu fiqhi gula ibaratnya ilmu tasawuf, jadi apabila ada orang yang menentang ilmu tasawuf, hanya karena orang tersebut belum mengenal atau bodoh sama sekali dengan hakikatnya tasawuf, karena mereka menilah hanya semata-mata menggunakan akal, sedang tasawuf lebih banyak menggunakan rasa (dzauq) sebab jika hanya dengan akal, akal tidak akan sanggup menjangkau mencapai semua itu. Alloh tidak akan bisa dijangkau dengan akal semata karena dia suatu yang goib dan tidak dapat dilihat dengan panca indra, sedangkan akal hanya dapat mencerna yang jelas yang nampak-nampak saja yang mampu dijangkau oleh panca indra dibalik itu semua akal tidak sanggup memproses dan akal tidak akan berfungsi.

SYECH SYADZILI WAFAT

Syekh Abu al-Abbas al-Mursy, murid kesayangan dan penerus thariqah Syadziliyah mengatakan bahwa gurunya setiap tahun menunaikan ibdah haji, kemudian tinggal di kota suci mulai bulan Rajab sampai masa haji habis. Seusai ibadah haji beliau pergi berziarah ke makam Nabi SAW di Madinah. Pada musim haji yang terakhir yaitu tahun 656H, sepulang dari haji beliau memerintahkan muridnya untuk membawa kapak minyak wangi dan perangkat merawat jenazah lainnnya. Ketika muridnya bertanya untuk apa kesemuanya ini, beliau menjawab, “Di Jurang Humaistara (di propinsi Bahr al-Ahmar) akan terjadi kejadian yang pasti. maka di sanalah beliau meninggal dunia. 



Related Posts

Comments
0 Comments

No comments: